Locomotive Multiple Unit System

 Setelah lama mager, akhirnya nulis lagi -_- Kali ini kita akan membahas soalan Multiple Unit System.

 Apa itu Multiple Unit System (selanjutnya disebut sebagai MU)? Gampangnya, MU adalah tipe sambungan lokomotif dimana dua/lebih lokomotif hanya perlu dikendalikan oleh satu lokomotif. Lokomotif yang mengendalikan disebut sebagai leading unit, sementara lokomotif yang digandeng disebut trailing unit. Teknologi MU sendiri sudah ada sejak era 1950an. Lokomotif di Indonesia yang pertama memakai MU adalah BB 201, bukan CC 201. 

Tampak muka CC 205. Nampak Socket MU dan Selang udara untuk MU di cowcatcher. Foto : Bpk Asep Suherman
 Kita akan membahas soalan sambungan antar lokomotif di sistem MU ini. Selain coupler, ada dua jenis sambungan lain. Yang pertama adalah selang2 tambahan selain selang ABAR (Air Brake) yang berfungsi menyalurkan udara dan jumper cable yang terpasang diantara socket MU. Jumper cable berfungsi untuk menyalurkan fungsi lain selain pengereman lokomotif. Jumper cable yang bentuknya mirip selang ini terdiri dari 27 kabel alumunium dengan sebuah "colokan" diujungnya. Colokan ini berfungsi untuk menghubungkan jumper cable dengan socket MU. Socket MU sendiri berupa sebuah "lubang" yang ditutupi oleh kotak besi (pada CC 201 selain CC 201 widecab dan CC 201 batch 1, CC 202, CC 205, BB 203 batch 2 dan sisi LH CC 203/204 batch 2). Atau berupa "lubang" yang tersembunyi dalam body, untuk mencapainya, harus membuka "pintu"nya terlebih dahulu (pada sisi SH CC 203/204 batch 2 dan CC 206). Atau berupa port yang tidak tertutupi apapun (pada BB 201). CC 204 batch 1 sendiri tidak dilengkapi MU, karena mereka merupakan gubahan dari CC 201 batch 1. Ada juga BB 303 yang ditambahi fitur MU oleh Balai Yasa Pulubrayan.

Pemasangan Jumper Cable pada CC 202. Foto : Bima Budi Satria
 Selanjutnya kita akan membahas masalah pengereman pada sistem MU. Ada 6 port selang tambahan selain selang abar disisi kiri kanan cowcatcher. Selang ini berfungsi untuk menyalurkan udara ke Tangki Udara Penyama, Silinder rem dan Aplikasi/Release rem trailing unit. Selang-selang ini tidak wajib dipasang di cowcatcher, bisa dilepas ketika tidak diperlukan. Tekanan rem yang diperlukan lokomotif dikontrol oleh Relay Air Valve di masing-masing lokomotif. Dari ke enam port selang tambahan, cukup 3 saja yang dipasangi selang dan disambungkan. Di Trailing unit, handle rem independen dan rem automatic harus berada dalam posisi release, atau jika perlu handlenya dicabut. Pastikan juga handle reverser sudah dicabut dari meja layan.

Selang tambahan dan selang udara utama CC 205. Foto : Bpk. Asep Suherman
BB 201 09 di Yogyakarta, 1989. Menunggu sinyal aman untuk ditraksi gandakan ke KA Purbaya. Nampak hanya ada selang rem utama. Foto : Bpk. M Luthfi Tjahjadi
 Selanjutnya, Jumper Cable. Ada 27 pin pada jumper cable dengan rincian :
  1. Power Reduction
  2. Alarm Bell
  3. "D" Governor Selenoid
  4. Negative Voltage Common
  5. Emergency Sand
  6. Main Alternator Field
  7. "C" Goverment Selenoid
  8. Reverse
  9. Forward
  10. Wheel Slip Indicator
  11. Cadangan
  12. "B" Goverment Selenoid
  13. Control Circuits and Fuel Pump
  14. Cadangan
  15. "A" Goverment Selenoid
  16. Engine Run
  17. Dynamic Brake Control
  18. Cadangan
  19. Cadangan
  20. Dynamic Brake Warning
  21. Dynamic Brake Interlock
  22. Air Compressor Control
  23. Manual Sand
  24. Dynamic Brake Excitation
  25. Headlight
  26. Ground Relay Reste
  27. Cadangan
 Posisi throttle diinterpretasikan ke mesin oleh governor. Dimana governor bertugas mengatur injeksi bahan bakar ke ruang kompresi. Sinyal dari throttle dikirim sebagai "kode"  ke lima selenoid yang mengontrol kerja governor. Anggap saja ada selenoid "A", "B", "C", "D", dan "E" pada governor. Rinciannya :

Low idle : Selenoid "D" dan "E"
Idle dan notch 1 : Semua selenoid tidak dialiri
Notch 2 : Selenoid "A"
Notch 3 : Selenoid "C"
Notch 4 : Selenoid "A" dan "C"
Notch 5 : Selenoid "B", "C" dan "D"
Notch 6 : Selenoid "A", "B", "C", "D"
Notch 7 : Selenoid "B" dan "C"
Notch 8 : Selenoid "A", "B" dan "C"
Stop : Selenoid "D"

Adapun perintah-perintah lain dijabarkan sebagai :
  1. Power Reduction : Pengurangan tenaga yang dikeluarkan pada posisi throttle yang diberikan oleh masinis, dipakai ketika daya tarik lokomotif lemah atau untuk mempertahankan keceptan pada posisi tertentu.
  2. Alarm Bell : Alarm akan berbunyi di seluruh unit, baik leading unit maupun trailing unit. Lampu indikator akan menyala atau layar komputer akan menampilkan bagian mana yang mengalami kegagalan sistem atau kerusakan. Untuk mematikan alarm, nyalakan Isolation Switch pada kabin lok yang bermasalah. Namun hal ini tidak berlaku saat lok mengalami hot engine.
  3. Emergency Sand : Ketika rem emergency ditarik, pemasir secra otomatis akan berfungsi di seluruh lokomotif.
  4. Wheel slip indicator
  5. Control and Fuel Pump : Berfungsi untuk mematikan Fuel Pump.
  6. Engine run : Mengatur selenoid pada Governor.
  7. Dynamic Brake Control : Untuk mengaktifkan atau mematikan rem dinamis.
  8. Dynamic Brake Warning : Indikator akan menyala ketika terjadi kegagalan kontrol pada rem dinamis atau saat kekuatan rem dinamis harus dikurangi.
  9. Dynamic Brake Interlock : Untuk mencegah pengoperasian rem dinamis saat switchnya tidak berada diposisi yang benar saat handle rem dinamis dipakai.
  10. Air Compressor Control
  11. Dynamic Brake Excitation : Untuk mengatur kekuatan rem dinamis.
  12. Manual Sand : Untuk mengatur pemasir lok. 
  13. Ground Relay Reset : Untuk mencegah konsleting pada traksi motor dan kabel alternator.
 Saat mengatur lokomotif pada posisi MU, satu-satunya hal yang perlu diatur pada Leading Unit hanyalah posisi headlamp control switch untuk mematikan headlamp yang menghadap lokomotif lain dan mengirim sinyal melalui Jumper Cable. Selain itu, Control and Fuel Pump breaker harus dalam posisi on. Di Trailing Unit, mesin harus menyala dan Control and Fuel Pump breaker harus dalam posisi off. Reverser harus dicabut dari dari meja layan dan rem independen dan otomatis harus dalam posisi release. Setelah Jumper Cable dipasang, test pengereman harus dilakukan sebelum lok dipakai. Selain itu Trailing Unit harus dicek apakah mematuhi "perintah" dari Leading unit atau tidak. Setelah semuanya selesai, barulah lok bisa digunakan. Sambungan MU tidak harus SH-LH. Bisa LH-LH, LH-SH, SH-SH, tergantung dari ada atau tidaknya jumper cable dan port selang tambahan. Dahulu, CC 201 batch 2 / 3 dan 203 memiliki port MU lengkap dengan port selang tambahan. Namun kini hanya CC 202, 204 batch 2, 205 dan 206 saja yang masih bisa dipakai untuk MU. Banyak CC 201/203 yang port MUnya "diamputasi" dengan cara memotong port selang dan jumper cable. Kecuali CC 201/203 di DIVRE III. Di DIVRE III, port MU masih dipelihara. DT di Jawa, kebanyakan adalah DT "Feeling", dimana masing2 kru lokomotif harus memiliki feeling yang kuat saat DT untuk menentukan kapan harus menambah tenaga, jika DTnya bermaksud sebagai penambah tenaga.

Galeri :

CC 201 104 di Stasiun Jakarta Kota, 1994 dengan kondisi "lengkap". Foto : Bpk M Luthfi Tjahjadi
CC 203 08 di Dipo Solo Balapan. Port MU sisi SH sendiri berada dibawah logo Departemen Perhubungan. Foto : Bpk M.V.A Krishnamurti
Sambungan MU pada CC 204 (SH-SH). Nampak "pintu" port MU SH dibuka dan cukup 3 selang tambahan yang dihubungkan. Foto : Agung Wicaksono Kurniawan
Sambungan MU pada CC 201. Jumper Cable dipasang dan cukup 3 selang tambahan yang dihubungkan.
Foto : Bpk. Asep Suherman

Sambungan MU pada CC 204 (SH-LH). Foto : Rahman Syawal Magrisa
CC 203 34 menarik KA Pulp. Nampak "pintu" port MU hilang. Foto : Bpk. Jumadi Apriel
Pada KA Babaranjang, KPT Super, Pulp, KLB RI1, SCT Super, Kedua lokomotif harus disambungkan secara MU.
Foto : Maulana Nur Achsani
Sambungan MU pada CC 202. Foto : Bpk. Asep Suherman
Sambungan MU pada CC 205. Foto : Bpk. Firman Tr
Diterjemahkan dari : http://www.railway-technical.com/us-musp.shtml , dengan pengubahan dan penyesuaian seperlunya.

0 comments: