CC201 135R

CC201 83 54 SDT ex CC201 83 54 TNK ex CC201 135R TNK ex CC201 135R JNG ex CC201 135R SMC ex CC201 135R TNK ex BB203 07 TNK

  CC201 135R mengawali dinasnya pada 26 April 1978, sebagai BB203 07. BB203 07 ditempatkan di Tanjungkarang bersama BB203 batch awal lainnya. BB203 07 kemudian direhab di Balai Yasa Lahat sekitar awal era 2000an, dan berubah menjadi CC201 135R. Awalnya, 135R ditempatkan di Tanjungkarang. Namun kemudian dikirim ke Semarang Poncol awal sekitar tahun 2004/2005.

CC201 135R sebelum PLH Gubug. Foto : Baskoro
 Naas bagi 135R, pada Sabtu tengah malam, 15 April 2006, sekitar pukul 02.15 pagi, 135R yang menghela KA Kertajaya dihajar oleh CC203 39 yang menghela KA Sembrani di stasiun Gubug. Benturan keras membuat kabin kiri 135R hancur dan 135R terlempar ke sawah. Efek tabrakan menyebabkan 10 orang yang berada di kabin tewas, termasuk masinis KA Kertajaya yang ikut gugur. PLH ini terjadi akibat masinis tidak diberitahu adanya pemindahan tempat penyusulan. Seharusnya, KA Kertajaya hanya disusul KA Gumarang di stasiun Gubug, namun kenyataannya ditambah dengan disusul KA Sembrani. Hal ini diperparah dengan radiolok yang rusak, dimana channel tidak dapat dipindah, sehingga kru kabin tidak bisa berkomunikasi dengan PK/OC (Pusat Kendali). Masinis KA Kertajaya sebenarnya sempat mengerem, setelah mengetahui kedudukan wesel terlayan ke sepur lurus dan mencoba mundur, namun waktu terlalu mepet dan akhirnya PLH terjadi. Akibat kejadian ini, kabin 135R dibuang sebelah dan direkonstruksi. Setelah selesai diperbaiki, CC201 135R keluar dengan cap JNG, meski beberapa bulan kemudian 135R dikembalikan ke TNK. Perubahan setelah perbaikan di Balai Yasa terlihat pada model lampu semboyan yang diubah, pemasangan foglamp, meski itu foglamp karet, bukan model original, dan ditutupnya blower rem dinamis.

CC201 135R di area Balai Yasa Yogyakarta setelah Rehab. Foto : Bpk. Widodo M.W Moedji
Potongan Kabin CC201 135R. Foto : Bpk. Widodo M.W Moedji
CC201 135R di Dipo Jatinegara, Agustus 2006. Foto : Indra Hardi Saputro.
 Di Tanjungkarang, 135R tidak langsung dimerahkan, tetapi masih mempertahankan livery buatan Balai yasa Yogyakarta, dengan tambahan nomor 135 di ujung LH dan SHnya. Barulah sekitar tahun 2008, 135R dimerahkan. Perubahan pada 135R setelah dimerahkan adalah, airhornnya diganti, dari Wabco AA2 menjadi airhorn custom dengan bunyi mirip airhorn CC202.

CC201 135R di Pelabuhan Merak, saat dikirim ke Tanjungkarang. Foto : Anonim
Sisi LH 135R. Foto : Fujinaga Hideki.
CC201 135R saat berdinas sebagai lok posko. Foto : Fujinaga Hideki.
CC201 135R, setelah dimerahkan kembali oleh Balai Yasa Lahat. Foto : Huda Logawa
  Pada tahun 2012 akhir, 135R kembali lagi ke Jawa. Kali ini mendarat ke Sidotopo. Dibawah asuhan Sidotopo, 135R sering menarik KA Dhoho/Penataran dan KA-KA DAOP VIII lainnya. Kemudian sekitar April 2013, CC201 135R akhirnya berganti livery menjadi livery standar Jawa. Selain itu, CC201 135R juga mengenakan kawat ram/tralis khas lok kotak SDT, menggantikan kawat ram ala DIVRE III.

CC201 135R menghela KRD Babat di daerah Cerme. Foto : Alm. Edja Noesanto Nitijoso.
Bersanding. Foto : Mahaserper Kandangan, Wisnu Pramudji Kusuma Adi.
CC201 135R menarik pulang CC201 129R yang anjlok di Kalimas, memasuki stasiun Sidotopo. Foto : Alm. Edja Noesanto N.
CC201 135R saat menjalani test track di Balai Yasa Yogyakarta, April 2013. Foto : Maulana Nur Achsani.
 Perubahan pada 135R selain livery adalah, pergantian kembali airhornnya, dari airhorn custom menjadi Wabco AA2. 

Saat menghela KA 159 Pasundan (Surabaya-Bandung) di stasiun Sumpiuh, 2013.
 Kemudian pada 2015 kemarin, 135R kembali masuk ke Balai Yasa Yogyakarta untuk menjalani PA. 135R keluar PA pada 09 Mei 2015. Perubahan pada 135R setelah PA 2015 terletak pada ditambahkannya bagian yang menonjol pada cowcatcher, atau sering disebut sebagai sekop, dan pengaktifan selang pemasir. 135R masih mempertahankan tralis khas SDTnya, dengan foglamp yang masih model karet.

Masih kinclong setelah PA. Foto : Aldyan Fanindya N.
Saat menghela Probowangi di Probolinggo. Foto : Aldyan Fanindya N.

0 comments: