Jalan Panjang KA Kotak-kotak

  Kali ini saya akan membahas sejarah dan perkembangan KA Kontainer/Petikemas/Kotak-kotak atau apalah itu... Dari awal kemunculannya hingga sekarang, termasuk gerbong yang digunakan dari dulu hingga sekarang. Karena cukup panjang, saya akan membaginya menjadi beberapa bagian. Namun pertama, akan saya bahas kemunculan KA Petikemas secara singkat.

  Jalan panjang KA ini dimulai tahun 1985. Ditahun itu, gerbong berisi kontainer masih dititipkan ke KA Barang reguler, belum berjalan satu rangkaian penuh seperti sekarang. Barulah tahun 1987, dijalankan KA Kontainer, yang awalnya hanya melayani rute Surabaya Pasarturi-Tanjungpriok Gudang sejauh 698 km, dan rute Tanjungpriok Gudang-Gedebage sejauh 159 km. KA Kontainer yang menuju Surabaya kemudian diberi nama Antaboga. Antaboga sendiri adalah Raja Ular yang hidup di perut bumi,menurut mitologi Jawa . Dari dua relasi ini kemudian berkembang dengan tambahan beberapa rute, sampai akhirnya sekarang kembali susut menjadi hanya dua rute utama.

CC201 51 menghela KA Petikemas. Foto : Bpk. Happy Mukardi
Bagian 1

Kontainer Surabaya-Jakarta via Semarang, kisah Antaboga dan anak buahnya...

 Nama Antaboga yang disematkan kepadanya, dikemudian hari hanya merujuk pada beberapa perjalanan KA, yang mengakhiri perjalanannya di Surabaya Pasarturi dan Jakarta Gudang. Sementara yang mengakhiri perjalanan di Kalimas dan Tanjungpriok hanya disebut sebagai Kurs Petikemas. Dari awal peluncurannya, KA Kontainer ini terkesan stagnan. Selama dua dekade, KA ini tampil dengan formasi lok + 20 gerbong datar, dengan terkadang tidak bermuatan penuh.

Langsiran KA Petikemas di Tanjungpriok. Foto : Bpk. M. Hanafi
CC203 14 dengan KA Petikemas di Cirebon. Foto : Bpk. Happy Mukardi
Persilangan dua KA Petikemas di Pekalongan, 2005. Foto : Bpk. Paulus Sony G.
  Dalam perjalanannya, KA ini sering menjadi bulan-bulanan KA Penumpang, yang membuat waktu tempuhnya molor. Jakarta-Surabaya bisa ditempuh sekitar 13 jam lebih dengan KA ini, meskipun lebih cepat dari Angkutan Roda Karet. Nasib Antaboga sedikit lebih baik karena Antaboga adalah pemegang nomor puncak KA Barang. Namun setidaknya nasib KA ini lebih baik dari KA Angkutan Ternak yang bisa menempuh Jakarta-Surabaya selama 21 jam, bahkan lebih. KA ini sendiri pernah terlibat beberapa insiden yang bisa dibilang fatal. Pernah ditahun 1996, KA Kontainer bertabrakan dengan KA Angkutan Ternak di Cikarang. Akibat tabrakan dari belakang, beberapa gerbong KA Ternak anjlok dan menutupi rel arah berlawanan, sementara rangkaian Kontainer juga kacau balau. Dari arah berlawanan, lewatlah KA JS950 Argobromo. JS950 langsung menghajar gerbong-gerbong KA Ternak yang menutupi rel. Akibat PLH ini, dua lok anjlok, beberapa gerbong anjlok dan puluhan ekor ternak mati. Selain itu, pernah juga KA Kontainer menuju Surabaya beradu kepala dengan KA Kontainer dari Gedebage. Adu kepala ini terjadi karena Kontainer menuju Surabaya melanggar sinyal masuk saat berjalan sepur kiri. Akibatnya, KA langsung menghajar Kontainer dari Gedebage yang sedang menunggu di emplasemen Cikarang. Kemudian pada 2009, Antaboga ditabrak KA Rajawali di emplasemen stasiun Kapas, akibat KA Rajawali melanggar sinyal masuk stasiun Kapas.

KA Petikemas di Jerakah, Semarang. Foto : Muhamad Rifai
  KA ini juga sempat berdampingan dengan KA Barang Cepat (KABAT/BC). Berbeda dengan Petikemas, BC menggunakan gerbong tertutup dan memiliki nomor di bawah Antaboga. Barang Cepat sendiri sudah ada sekitar 20 tahun sebelum KA Petikemas muncul, meski rute awalnya Jakarta-Surabaya lewat Yogyakarta. Namun sekitar 2011 akhir, Antaboga dan Barang Cepat dihapus, seiring dipusatkannya kegiatan bongkar muat di Tanjungpriok. Sementara di Surabaya, kegiatan bongkar muat juga dipusatkan ke Kalimas. Selain itu, dibuka juga tempat bongkar muat baru di Cikarang Dry Port. Frekuensi KA bertambah, meski panjang rangkaian masih tetap. Kemudian dibuka juga Kontainer relasi Cilegon-Kalimas, yang sayangnya hanya berjalan singkat. Di Surabaya, perubahan kembali terjadi dengan dibukanya Waru sebagai stasiun bongkar muat.

KA Barang Cepat. Foto : Narendro Anindito
3 KA Kontainer di Semarang Poncol. Foto : Dzulfiqar Ade Fajri.
 KA ini melakukan pergantian kru di Cirebon Prujakan, Semarang Poncol dan Cepu. Namun kemudian pergantian kru dipindah dari Cirebon Prujakan ke Waruduwur. Saat double track Jakarta-Surabaya selesai, waktu tempuh KA ini terpangkas, dan permintaan angkutan semakin meningkat. Namun sayangnya, Waru ditutup untuk bongkar muat saat bongkar muat petikemas dipusatkan ke Kalimas. Sekitar 2015, dijalankan KA Kontainer "Ranjang (Rangkaian Panjang)" yang membawa 30 gerbong dengan kapasitas 60 TEUs (TEU : Satuan Kontainer, 1 TEU = 1 kontainer ukuran 20 feet). KA ini ditarik oleh CC206, dengan tonase berkisar 900 hingga 1100 ton. Perpanjangan rangkaian ini juga disambut dengan reaktivasi rel menuju TPS (Terminal Petikemas Surabaya) dan JICT (Jakarta International Container Terminal). Beberapa waktu lalu juga dilakukan ujicoba KA Petikemas JICT-Cikarang Dry Port dengan stamformasi 30 GD. Bahkan sempat juga dilakukan ujicoba KA Petikemas dengan stamformasi 40an GD, meski akhirnya tidak diregulerkan. Tren 30 GD juga merambat ke Angkutan Semen Tiga Roda dari Nambo. Namun bagi saya pribadi, ada problem baru yang muncul. KA dengan stamformasi 30 gerbong ini "susah" untuk disusul KA Penumpang karena tidak semua stasiun mampu menampung rangkaian sepanjang 30 GD. Alhasil, jika ada KA Penumpang yang berada dibelakang rangkaian 30 GD, terkadang harus memelankan kecepatan untuk menjaga jarak dengan si 30 GD, sembari menunggu si 30 GD masuk ke stasiun yang memungkinkan terjadi penyusulan. Namun kasus tersebut cukup jarang terjadi, tapi tetap saja bukan alasan untuk tidak menambah panjang emplasemen stasiun-stasiun yang "pendek", seperti Kapas.

CC206 48 menghela KA 2509 berangkat dari Semarang Poncol.
Suasana emplasemen stasiun Kalimas.
Melintas langsung Semarang Tawang.
Sebuah KA Petikemas, sesaat sebelum masuk stasiun Kalimas.

Bagian 2

Petikemas Gedebage-Tanjungpriok, sebuah cerita dari sudut barat Parahyangan...

  Petikemas Gedebage-Tanjungpriok kebanyakan dijejali dengan barang-barang berorientasi ekspor hasil produksi Bandung, maupun barang impor yang memasuki Bandung. KA ini lebih pendek dari saudaranya di utara, KA ini hanya membawa rangkaian dengan stamformasi 15 GD. Puncak keemasan KA ini adalah saat jabatan Menteri Perhubungan dipegang oleh Azwar Anas, yang menerbitkan kebijakan pengalihan angkutan petikemas ke KA. Di era itu, KA ini memiliki 5 trip perjalanan dengan setiap perjalanan rangkaian selalu terisi penuh, bahkan terkadang diperlukan lokomotif lain untuk mendorong rangkaian menanjak. Selain itu, terkadang rangkaian juga dipecah di Purwakarta agar KA tidak terlalu berat sehingga menyebabkan larat (rem blong). Sisa rangkaian yang ditinggal di Purwakarta kemudian dijemput lok lain dan berjalan menuju Gedebage dengan nama Sisa Muatan (SiMut). SiMut biasanya hanya terdiri dari 2-5 gerbong. Berbeda dengan saudaranya di utara, KA ini biasanya berjalan malam atau menjelang pagi, sehingga tidak terlalu menjadi bulan-bulanan KA Penumpang.

KA Petikemas di stasiun Sasaksaat. Foto : PERUMKA, koleksi Bima Budi Satria.
KA Petikemas di jembatan Cirangrang. Diambil dari Kalender PERUMKA oleh Anonim.
  Namun, keadaan berbalik ketika tol Cipularang dibuka. Para pengusaha lebih memilih mengangkut petikemasnya dengan truk. Hal ini membuat frekuensi perjalanan KA ini turun, menjadi hanya satu trip sehari, dengan kebanyakan tripnya kosong alias tanpa muatan. Keadaan memprihatinkan ini terus terjadi hingga sekarang, meski sekarang tidak separah beberapa tahun lalu. Terminal Petikemas di Gedebage yang dahulu ramai, kini sepi. Aktivitas bongkar muat hanya dua kali, dan tidak banyak petikemas yang diangkut, meski terkadang KA ini juga berjalan full muatan. Namun KA ini tidak bisa seperti dulu akibat kalah saing dengan roda karet. Namun, perpindahan moda angkutan dari KA ke truk menimbulkan masalah baru, yaitu kepadatan lalu lintas di Tol Cipularang. Meski lalu lintas semakin padat, namun kebanyakan petikemas masih diangkut truk, belum dialihkan ke KA. Entah dikemudian hari muncul kebijakan pengalihan angkutan petikemas atau tidak... Yang jelas, kita hanya bisa menunggu KA ini kembali ke masa jayanya...

C204 19 menghela KA Petikemas TPK-GDB di Jatinegara. Foto : Johanes Christian
CC204 15, dengan rangkaian kosong. Foto : Andreva Rahmawan H.
KA Petikemas di stasiun Sasaksaat. Foto : Bpk. M.Hanafi
Foto : Ariefrianto Suhardadi.
KA Petikemas di Padalarang. Foto : Ariefrianto Suhardadi

Bagian 3

Yang terlupakan...

  Beberapa relasi KA Kontainer yang, mungkin belum pernah anda dengar sebelumnya....

1. Solo Jebres-Semarang Gudang
Sekitar tahun 90an, pernah ada relasi ini... Namun ya, hanya bertahan singkat...

BB200 33 melangsir rangkaian petikemas. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
BB200 33 dengan KA Petikemas. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
2. Rambipuji-Kalimas
Relasi ini muncul era 1980an, mengangkut tembakau hasil produksi petani untuk diekspor. Namun mati di era 90an.

BB304 10 menghela perjalanan pertama Petikemas Rambipuji-Kalimas. Koleksi : Ferry Andy Syafi'i
08 Juni 1983 pukul 01.05, KLB Petikemas pertama siap diberangkatkan dari Rambipuji. Koleksi : Ferry Andy Syafi'i
Rangkaian KA Petikemas Rambipuji-Kalimas. Koleksi : Ferry Andy Syafi'i
3. Tonjongbaru-Kalimas.
Bukan Tonjong yang ada di Brebes, tapi Tonjong yang ada di Banten. Jadi, dibuatkan jalur cabang baru dari Tonjongbaru menuju Pelabuhan. Sayangnya, relasi ini juga tidak awet. Bahkan kini rel yang menuju pelabuhan sudah dicabuti, hanya menyisakan railbednya saja.


Bagian 4

Sarana yang digunakan...

Beberapa jenis gerbong datar yang dipakai KA Petikemas :

1. GD 84 45 xx ex PKPKW
GD ini didatangkan dari pabrikan ARAD, Rumania tahun 1984. GD berkapasitas 45 ton ini memiliki keunikan berupa lantanya yang menekuk. Hal ini dimaksudkan agar Kontainer Jumbo tidak tersangkut di terowongan. Kebanyakan PKPKW ada di DAOP II BD, menjadi milik Dipo Gerbong Gedebage, meski beberapa ada yang berumah di Sidotopo. PKPKW milik Gedebage sendiri berwarna kuning cerah, sementara milik Sidotopo berwarna hijau.

Koleksi Bpk M. Luthfi Tjahjadi
2. GD 42 xx xx
Populasi gerbong datar jenis ini cukup banyak, dan kini menjadi armada utama KA Petikemas. Gerbong datar buatan INKA ini memiliki dua variasi, dimana yang pertama memiliki lantai yang berlubang, dan yang kedua memiliki lantai yang rapat. Yang lantai berlubang hanya digunakan untuk mengangkut Petikemas, sementara yang lantai rapat bisa dimuati semen, kardus dll. Gerbong jenis ini mulai dibuat INKA sejak 2007, dan sekarang sudah ada lebih dari 3000 buah.

GD 42 11 111 JAKG.
GD 42 12 460 JAKG
GD 42 12 490 JAKG
3. GD 30 xx ex PPCW sekian
Gerbong datar berkapasitas 30 ton ini dulu menjadi tulang punggung KA Petikemas, sampai akhirnya tergantikan oleh GD buatan INKA yang memiliki kapasitas muat lebih besar. KA Petikemas utara move on dari GD ini sekitar 2011, sementara KA Petikemas Gedebage baru move on sekitar 2012. Setelah purna dari KA Petikemas, GD ini biasanya dimodif untuk mengangkut rel, atau menjadi tempat AMUS (Alat Material Untuk Siaga). Banyak juga yang mangkrak.

PPCW 8530116, mangkrak di Weleri
GD 30 85 107 ex PPCW 8530110.
PPCW 8430064
4. PW
Sejauh ini, gerbong datar yang bergandar satu ini hanya digunakan oleh Petikemas Rambipuji-Kalimas, itupun tidak lama.

Beberapa lokomotif yang digunakan oleh KA Petikemas

1. BB301/304
Petikemas Rambipuji-Kalimas dahulu menggunakan lok ini. Selain faktor rendahnya tekanan gandar, tonase yang diangkut juga tidak seberat KA Petikemas lainnya.


2.. CC201
Dahulu, KA Petikemas Kalimas-Tanjungpriok biasa dihandle oleh CC201 milik Jatinegara atau Sidotopo. Sidotopo menerjunkan barisan CC201 "tua" alias angkatan 1977, sementara Jatinegara sering menggunakan CC201 eks BB203 atau CC201 batch 2/3 miliknya. Sementara Petikemas Gedebage-Tanjungpriok dihandle oleh CC201 milik Bandung.


3. CC203
CC203 milik Bandung dahulu sering menghela KA Petikemas Gedebage-Tanjungpriok, sementara Petikemas Tanjungpriok-Kalimas cukup jarang dihela CC203.


4. CC204
Sebelum dimutasi ke Sumatera Selatan, terkadang CC204 milik Dipo Bandung menghela KA Petikemas, terutama CC204 10. Sementara terkadang CC204 milik Sidotopo menghela KA Petikemas Kalimas-Tanjungpriok.

Foto : Dzulfiqar Ade Fadjri
5. CC206
Nah, lok inilah yang sekarang digunakan untuk menghela KA Petikemas, baik yang stamformasi standar (20 GD) maupun yang 30 GD...



Bagian 5

DIVRE I, sebuah harapan baru...

  28 April 2016 kemarin, DIVRE I menjalankan KLB V1/10971 ujicoba KA Petikemas dari Dolok Merangir ke Belawan. Ujicoba ini dilakukan dari area bongkar muat PT Sumatera Tobacco Trading Company menuju Pelabuhan Belawan. Hal ini menandai kebangkitan KA Petikemas di DIVRE I yang 10 tahun mati. KLB terdiri dari 10 GD bermuatan kontainer 40 feet yang ditarik CC201 05. Ujicoba berjalan lancar, tinggal menunggu kelanjutannya, jalan reguler atau tidak... Semoga sih, jalan reguler...

CC201 05 dengan KLB V1/10971. Foto : DIVRE I Railfans
KLB persiapan memasuki stasiun Araskabu. Foto : Syahri W. Hidayat
KLB V1/10971 memasuki stasiun Medan. Foto : DIVRE I Railfans


  Ya, cuma itu sih yang mau saya ceritakan... Eits, tunggu dulu, jangan ditutup tabnya :P Silakan bookmark, artikel ini akan terus saya perbarui jika ada perubahan, hahaha.... Terima kasih sudah membaca :D

1 comment:

  1. mau nambahin, gd 30 itu juga merupakan armada utama ka batubara daop 1 sebelum taun lalu digantiin sama gd 42

    ReplyDelete