Random Facts About Indonesian Railway (6)

1. CC 204 05,06 dan 07 sebenarnya sudah sejak awal mengenakan lampu kabut. Namun model dudukan serta lampu semboyannya berbeda dari lok lain. Dudukan foglampnya terkesan maksa, sementara lampu semboyannya masih mengenakan lampu semboyan model lama.

CC 204 07 di Yogyakarta. Foto : Bpk. Widodo M.W Moedji
2. PERUMKA sempat menjalankan kelas Bisnis Plus di akhir 1990an. Bisnis Plus ini memiliki kursi reclining, sama seperti Eksekutif, namun menggunakan kipas angin sebagai pendingin ruangannya, serta jendela belah yang bisa dibuka layaknya kereta bisnis biasa. Bisnis Plus tidak dilengkapi TV, dengan ruang bagasi dan langit-langit ala Eksekutif. Bisnis Plus awalnya hanya ada di KA Turangga, namun kereta Bisnis Plus milik Turangga dipindah ke Malang saat Turangga menjadi KA full Eksekutif. Kereta Bisnis Plus akhirnya digunakan Gajayana hingga Gajayana menjadi KA full Eksekutif sekitar tahun 2001. Selepas itu, kelas Bisnis Plus dihilangkan.

Interior Bisnis Plus. Koleksi Bpk. Happy Mukardi
3. Pada 20 April 1992, KA 2310 (BW-JR) melanggar sinyal masuk stasiun Kalibaru pihak Glenmore. Akibatnya, KA 2310 kemudian menabrak KA 819 yang sedang langsir dari jalur III ke jalur V. Akibat kejadian ini BB 303 38 mengalami sasis bengkok dan elemen radiator rusak, BB305 04 mengalami stang rem putus dan boffer bengkok, GGW-305156 dan GGW-305432 rusak sedang, K3-53210 mengalami rangka dasar bengkok, B-54213 lantainya jebol, bordes dan boffer bengkok serta GR-7026 mengalami bordes bengkok. Kejadian ini diakibatkan karena masinis KA 2310 mengantuk.

4. Pada 21 Desember 1963, pukul 05.58, KA 2304 bertabrakan dengan KA 301 di km. 114+ 2/3, petak jalan Ciganea-Bendul (Sukatani). Tabrakan ini menyebabkan 2 orang meninggal dunia, satu orang Juru Api mengalami luka bakar, 9 orang luka berat, termasuk seorang masinis dan 19 orang luka ringan. Sementara itu, CC50 dan BB200 yang menghela kedua KA rusak berat, 10 KR terguling dan terbakar serta 3 kereta rusak berat. Kejadian ini diakibatkan karena miskomunikasi dalam pertukaran warta KA oleh kedua PPKA.

5. 15 Mei 1973, pukul 06.05, KA Bima 2(Jakarta-Surabaya) dengan lokomotif BB201 05 menabrak KA 821 dengan lokomotif D52 043 yang sedang mogok di km 198+9 antara Paron-Kedunggalar. Kejadian ini diakibatkan karena kurang cakapnya masinins KA Bima 2.

6. Pada 11 April 1968, pukul 22.15, CC50 02 yang sedang berjalan loks dari Bandung menuju Purwakarta meledak saat berhenti di jalur 2 stasiun Bendul. Akibatnya, masinis, juru api, calon juru api (ketiganya dari Dipo Purwakarta), 1 pekerja harian stasiun dan 2 orang lainnya meninggal dunia. Kepala Stasiun Bendul yang saat itu bertugas sebagai PPKA mengalami luka ringan. Ledakan terjadi akibat retakan pada boiler dan tidak berfungsinya savety valve. Ledakan yang konon terdengar hingga Padalarang ini menyebabkan bangunan stasiun rusak. Bangunan stasiun kemudian direnovasi, dan namanya diubah menjadi Sukatani.

7. BB 304 07 terbakar saat berdinas KA Rangkas Jaya akibat kekurangan air pendingin dan diperparah dengan alarm hot engine diganjal sehingga tidak berfungsi.
BB 304 07 di kebun Balai Yasa Yogyakarta. Foto : Bpk. Widodo M.W Moedji.
8. Ada dua kereta eks KRL milik ESS yang dimodifikasi menjadi KRDE di era 1970an. Satu unit dimodifikasi di Dipo Bukitduri sementara satu lainnya dimodifikasi di Balai Yasa Yogyakarta. Keduanya sempat dipakai untuk KA Penumpang rute Semarang-Cepu PP, namun dirasa tidak efektif. Satu unit sempat menjadi kereta inspeksi. Nasib keduanya tidak jelas. Namun kemungkinan keduanya dirucat di era 80an.

9.  Awalnya, CC 200 juga digunakan untuk menarik KA Penumpang, termasuk KA Ekspres. Namun, didegradasi ke KA Barang karena kondisi traksi motor dan axle bearing yang cepat panas jika berjalan diatas 75 km/jam. Selain itu, banyak juga yang berjalan dengan traksi motor yang tidak lengkap. Selain itu, conrod bearing (bagian dari motor diesel) juga banyak yang dibuat oleh BY YK, bukan original. Akibatnya, throttle notch dibatasi hanya 6, bahkan 4. Akibatnya, kecepatan maksimal CC 200 pun turun. CC 200 pun berubah menjadi lok lambat yang cocok berdinas KA Barang yang kecepatan maksimalnya dibawah 70 km/jam.

CC 200 09 di Purwakarta, 1974. Foto : Franc Mitchell
10. Ada 4 unit BB 200 yang tidak merasakan livery merah-biru PERUMKA. Keempatnya afkir pada 10 Oktober 1986. Keempatnya yaitu BB 200 10, BB 200 11, BB 200 18 dan BB 200 35.

11. Beberapa unit BB 200 sempat direpower pada era 80an. Repower ini termasuk penggantian mesin dan sparepart, serta traksi motor. Daya mesin dapat ditingkatkan, dari 875 hp menjadi 1050 hp. BB 200 yang direpower di era 80an sempat diberi tanda berupa cat bulatan dengan huruf R di dalamnya.

Perhatikan bulatan berhuruf R diatas nomor lok... Foto : Bpk. M. Luthfi Tjahjadi
12. KA Purbaya sempat dihentikan operasionalnya pada 1978/79. Hal ini diakibatkan karena beroperasinya KA Argopuro relasi Jember-Surabaya-Purwokerto PP. KA Argopuro ditarik oleh BB 304 dan membawa 8/9 CW (kereta kelas 3) + CFW (kereta makan) + DPW (bagasi pembangkit). Sementara Purbaya memiliki stamformasi lebih pendek dan ditarik oleh BB 301. Namun, KA Purbaya kembali dijalankan pada 1987 seiring meningkatnya permintaan akan KA Ekonomi di koridor Surabaya-Yogyakarta. Kali ini, KA Purbaya ditarik oleh BB 200 dan full ekonomi biasa, berbeda dengan Purbaya era 60-70an yang merupakan ekonomi plus. Sementara itu, rute Argopuro diubah menjadi Banyuwangi-Yogyakarta. BB 200 yang dipakai Purbaya merupakan lok milik dipo Semarang Poncol, dengan pola dinasan hari ini SMC-PWT, besok dan lusa Purbaya PP lalu esoknya pulang ke SMC. Di era 90an, Purbaya kembali ditarik oleh BB 301 hingga dihapus pada tahun 2002. Uniknya, masinis yang berdinas KA Purbaya dari Purwokerto di era 90an biasanya membawa buku manual BB 301 untuk antisipasi jika ada gangguan di lintas karena tidak memiliki brevet BB 301.

Purbaya bersiap berangkat dari Surabaya Gubeng. Foto : Bpk. M. Luthfi Tjahjadi
13. Beberapa lokomotif diesel hidrolik di Indonesia menggunakan transmisi samba. Berbeda dengan transmisi kebanyakan, pada transmisi samba, arah putaran poros dapat dibalik sebelum poros berhenti berputar, dimana jika hal ini dilakukan pada transmisi biasa, maka berakibat fatal (transmisi patah).

14. KA Lokal Cibatu diluncurkan sekitar tahun 1986, sebagai gabungan dari KA Cibatu-Bandung dan Bandung-Purwakarta. Sebelumnya, di rute yang sama, tersedia KA Bandung-Purwakarta, Cibatu-Bandung dan Cibatu-Cicalengka. Namun saat KA Lokal Cibatu diluncurkan, KA Cibatu-Cicalengka dihapus.

BB 301 menghela KA Lokal Cibatu di Jembatan Cirangrang, Juli 1987. Foto : Bpk. Santo Tjokro
15. KA Lokal Cibatu sendiri sempat berjalan dengan dua rangakaian, dimana masing2 rangkaian berangkat dari Cibatu dan Purwakarta pada pagi hari sehingga total ada 4 perjalanan dalam sehari. Namun sayangnya, hanya bertahan sekitar 2 tahun akibat protes dari supir angkutan, bahkan hingga berujung sabotase.

16. Pelopor K3 dengan seat 2-3 dengan kapasitas total 106 penumpang adalah INKA, melalui K3 angkatan 1985/86nya. Kemudian, K3 distandarkan menjadi seat 2-3. Sebelumnya, K3 memiliki susunan seat 2-2 layaknya kereta ekonomi komersial di era sekarang, dengan kapasitas 80-88 penumpang. Satu-satunya kereta ekonoi asli selain K3 1985/86 yang berkapasitas lebih dari 100 adalah CW-95/96 buatan era 50an yang memiliki kapasitas 104 penumpang.

17. Lokomotif uap memiliki petugas yang dinamakan Juru Api Malam. Juru Api Malam bertugas menyalakan api untuk membuat uap. Juru Api Malam biasanya berdinas dalam dua shift Shift pertama dari jam 16.00 hingga 24.00, dan shift kedua dari jam 00.00 hingga 08.00.

18. Satu unit lokomotif uap hanya dirawat oleh satu pasang masinis dan juru api saja. Oleh karena itu, lok uap memiliki hiasan maupun penampilan yang kadang berbeda dari lok uap lainnya. Para masinis dan juru api sering menambahkan ornamen-ornamen seperti bintang emas, sayap emas atau cat putih pada beberapa bagian lok. Bahkan, sampai ada masinis yang menangis saat pensiun dan berpisah dari lok yang dirawatnya karena lok tersebut dirawat layaknya anak sendiri. Contohnya adalah kru D52 dari Dipo CN yang sering terlihat mengelap D52nya yang sedang parkir di emplasemen dengan gombal basah(kesaksian Bpk. Nurcahyo).

D52 060 (kiri) dan D52 099 (kanan), Cirebon. Keduanya merupakan D52 milik dipo Cirebon, namun karena dirawat oleh kru yang berbeda, keduanya memiliki penampilan yang berbeda, meski mirip. Koleksi Yoga Bagus C.P
19. Pada 20 September 1968, dua KA bertabrakan di Ratujaya, Depok, akibat arus liar pada sistem blok persinyalan yang membuat stasiun Depok dan Citayam bisa memberangkatkan KA secara bersamaan. Akibat peristiwa ini, sekitar 110 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Peristiwa ini menyebabkan satu unit BB 201 dan satu unit lok listrik seri 3200 rusak.

20. Pada 07 Februari 1998, KA Parahyangan dari Jakarta bertabrakan dengan KA Parahyangan dari Bandung di Sadang. Tabrakan terjadi akibat KA Parahyangan dari Jakarta melanggar sinyal. Akibatnya, CC 203 02 dan CC 203 03 rusak sementara BP-67705 rusak berat dan akhirnya dirucat.

0 comments: