GW-151xxx/GW tipe T22

 Selepas kemerdekaan, tugas berat bagi DKA/PNKA adalah modernisasi sarana, termasuk diantaranya gerbong barang. DKA sempat mendatangkan gerbong barang tertutup seri GL di era 50an, namun masih banyak gerbong-gerbong kuno ex SS yang masih berdinas. Sebagai bagian dari program modernisasi sarana, PNKA kemudian mendatangkan 398 unit gerbong barang tertutup seri GW-151xxx (oleh PJKA disebut tipe T22) dari pabrikan Werkspoor, Utrech, Belanda. Gerbong barang ini bergandar dua dan dilengkapi dengan rem udara tekan. Bentuk fisiknya cukup khas, atapnya melengkung, dan dindingnya tidak rata. Gerbong ini memiliki kapasitas muatan maksimal 15 ton. Gerbong seri ini memiliki bordes kecil berpagar besi pipa dengan rem tangan. Bordes ini digunakan oleh PLRM (Pelayan Rem) untuk memutar rem tangan di gerbong yang rem udaranya sudah tidak berfungsi.

GW-151028, salah satu dari 398 GW seri 151
GW seri 151 tiba di Indonesia sekitar 1966/67, dan langsung digunakan. GW seri 151xx digunakan sebagai gerbong KA BT (Barang Tjepat), baik BT Utara maupun BT Selatan. Selain itu, GW-151 juga digunakan di KA Barang lain seperti KA Barang TRS (Terusan) maupun KA Semen.

GW-151xx saat baru diturunkan dari kapal. Foto : Anonim

GW-151xx saat baru diturunkan dari kapal. Foto : Anonim

KA BT(Barang Tjepat) Selatan di Purwosari. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

GW-151xx menggunakan roda dengan pegas daun sebagai pegas utamanya. Selain itu, bearingnya juga menggunakan tutup berlabel PNKA FAB.

Roda GW seri 151xx
Selama dinas, GW-151xx dikenal sebagai gerbong yang mudah anjlok. Hal ini mungkin disebabkan karena berat kosongnya yang cukup "ringan", hanya 7,6 ton. GW seri 151 menikmati masa dinasan yang cukup panjang di KA Barang Cepat (yang dikemudian hari hanya tersisa BC Utara) hingga akhirnya digantikan dengan gerbong GGW yang lebih stabil. Penyingkiran GW-151xx dari Barang Cepat konon juga karena sifatnya yang mudah anjlok, sehingga dianggap membahayakan perjalanan KA Argobromo. Gerbong-gerbong GW-151xx kemudian dikumpulkan di Dipo Gerbong Maos dan digunakan untuk KA Semen Nusantara (Semen Holcim di kemudian hari) dengan tujuan Sragen, Semarang, Solo dan Yogyakarta.

CC201 59 dengan dua gerbong GW-151xx. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

CC201 63 dengan KA Semen kosongan di stasiun Gawok. Rangkaiannya didominasi GW seri 151xx. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
GW seri 151xx tetap bertahan dalam dinasan KA Semen walaupun mulai tergantikan dengan gerbong-gerbong tertutup seri GGW dan TTW yang lebih stabil dan dapat memuat muatan lebih banyak. GW-151xx pensiun sering dilarangnya gerbong gandar dua beredar sekitar tahun 2009/2010. Banyak gerbong-gerbong seri 151xx yang sudah mangkrak, ditumpuk diluar rel, bahkan dirucat. GW-151xx sudah mengabdi sekitar 40 tahun, sebelum akhirnya dipensiunkan.

GW-151002. Gerbong ini mangkrak di timur stasiun Kutoarjo.

GW-151xxx. Gerbong ini juga mangkrak di timur stasiun Kutoarjo.

Data Teknis :
Panjang : 8160 mm (tidak termasuk coupler)                                          
Lebar : 2460 mm
Tinggi : 3295 mm (dari kepala rel)
Jarak antar as roda : 4000 mm
Tinggi coupler : 760 mm
Berat kosong : 7,60 ton
Kapasitas Muatan : 15,00 ton



0 comments: