Jelajah Sokaraja-Kalibagor-Banyumas

 Jumat, 14 Juni, saya berkesempatan mengikuti rangkaian acara Jelajah Banjoemas "Mrapat" yang diselenggarakan oleh Banjoemas History Heritage Community. Jelajah diawal dari Sokaraja, dengan destinasi pertama rumah keluarga Kho Ju Seng, Letnan Tionghoa pertama Sokaraja. Rumah yang dibangun pada era 1850an ini menggunakan gaya Indische.

Tampak Depan 
 Keluarga Kho Ju Seng adalah keluarga Tionghoa terpandang di Sokaraja. Anak-anak Kho Ju Seng mengelola perusahaan N.V Ko Lie, Perusahaan Dagang yang cukup besar. Bahkan salah satu keturunan Kho Ju Seng, Kho Sin Kie adalah seorang pemain tenis terkenal. Sayangnya kami tidak bisa masuk kedalam rumah. Namun isi rumah ini masih lengkap. Rumah ini juga dilengkapi dengan sumur beserta pompa air dan tangki reservoir, dimana hal tersebut adalah hal yang luar biasa pada masa itu.

Sisi kiri rumah. Bagian disisi kiri aslinya adalah bagian dari rumah yang sayangnya sudah hancur.

Pagar beranda rumah.

Sisi kanan rumah

Jendela

Pintu

Beranda depan

Mejeng dulu...

 Destinasi kedua adalah bangunan yang didirikan keluarga Kho Giok Seng dari N.V Ko Thek, saingan N.V Ko Lie. Bangunan yang terletak di kompleks GKI Sokaraja ini bergaya Tionghoa, dengan penambahan bagian depan. 

Tampak depan bangunan.

Beranda depan. Bagian yang ditambahkan dapat dilihat dari lantai tegel yang berbeda.

Pintu Depan

Pintu belakang, dengan foto Kho Giok Seng

Foto Kho Giok Seng

Sisi kiri beranda belakang

Sisi kanan beranda belakang

Bagian belakang bangunan.

 Destinasi ketiga, TK/SD Kristen Sokaraja. Sekolah ini aslinya adalah Sekolah Tionghoa THHK (Perkumpulan Tionghoa) Soekaradja. Sekolah ini dibangun pada 1910, dengan bentuk maupun kayu-kayu bangunan yang masih asli. Aslinya, area sekolah ini cukup luas karena mencakup lapangan basket dan lapangan tenis, serta kelas-kelas outdoor. Sekolah ini diserahterimakan ke sebuah yayasan dan menjadi sekolah umum di era 1940an.

Sisi kiri depan

Sisi kanan depan

Tangga menuju lantai dua. Dua anak tangga paling bawah terbuat dari beton, sementara sisanya dari kayu.

Pintu di lantai satu

Pintu di lantai dua

Ruang kelas
  Setiap ruangan lantai dua di sekolah ini memiliki beranda. Lantai dan pagar beranda sendiri terbuat dari Kayu Jati.

Lonceng sekolah yang masih asli, digunakan sejak sekolah ini pertama beroperasi.
 Destinasi keempat adalah eks Stasiun Sokaraja. Stasiun ini dibangun oleh perusahaan SDSM (Serajoedal Stoomtram Maatschappij). Stasiun ini memiliki lima jalur, dan terkoneksi dengan pabrik gula Kalibagor dan pabrik Tapioka. Stasiun ini aktif hingga sekitar era 80an, melayani KA ke Banjarnegara/Wonosobo maupun KA ke Purbalingga.

Bangunan eks Stasiun Sokaraja

Gudang Stasiun

Emplasemen Sokaraja, dari Ikhtisar Lintas dan Emplasemen 1992 koleksi mas Bima Budi Satria
Menara air stasiun Sokaraja

Papan aset KAI diluar stasiun

Celah antara kantor stasiun dan gudang.

Pintu samping gudang (sepertinya tambahan)


Eks jalur 5 stasiun Sokaraja, mengarah ke Pabrik Tapioka

Batang rel

Inkripsi di batang rel

 Destinasi selanjutnya adalah eks Pabrik Tapioka yang didirikan pada 1916, yang sayangnya hanya tersisa cerobongnya saja. Pabrik ini terkoneksi dengan stasiun Sokaraja. Pabrik ini masih satu grup dengan Pabrik Tapioka Bumiayu.

Cerobong eks Pabrik Tapioka
  Destinasi keenam, kompleks Pabrik Gula Kalibagor. Pabrik gula ini mulai beroperasi pada 1839. Bangunannya sendiri mengalami tiga kali renovasi. Pabrik gula ini memiliki jaringan jalur ladang (decauville) yang tersebar disekitar perkebunan. Di era kemerdekaan, pabrik ini juga mendapat suplai tebu dari Puring, dan Ambal, Kebumen dan Bukateja,Purbalingga. Pabrik ini sempat berhenti giling selama lima tahun di era 1930an akibat krisis ekonomi, namun kembali beroperasi pada 1937. Pabrik gula ini mendapat limpahan aset dari pabrik gula Bojong, Kalimanah, Purwokerto, dan Kalirejo saat keempat pabrik tadi berhenti beroperasi karena krisis ekonomi. PG Kalibagor sendiri giling terakhir kalinya pada 1996, kemudian ditutup setahun kemudian. Sayangnya, pabrik ini dijarah. Banyak rel dan perlengkapan yang dicuri orang yang tidak bertanggungjawab. Banyak pegawai pabrik yang pindah ke PG Pangkah. Lokomotif lorinya sendiri 2 unit dipindah ke PG Sumberharjo, sementara dua lainnya dipindah ke PG Gondang Baru. Kami menelusuri kompleks perumahan PG terlebih dahulu. Berikut foto-fotonya :




Saluran air bersih sisi selatan yang digunakan untuk mengalirkan air bersih ke pabrik.




Berdiri menantang waktu
  Sambil menunggu Pak Jatmiko mengurus izin untuk memasuki kompleks pabrik, saya dan beberapa teman sempat mengobrol dengan Bpk. Suroto. Beliau adalah penjaga kompleks PG Kalibagor dan mantan sopir truk PG. Beliau semasa menjadi sopir truk sudah berdinas keseluruh ladang PG Kalibagor. Beliau sendiri beberapa kali bertemu dengan sosok-sosok orang Belanda di kompleks PG maupun mendengar suara-suara aneh sewaktu jaga malam.

Pak Roto (Suroto)

Kuliah singkat di kompleks perumahan pegawai

Saluran air sisi utara yang fungsinya sama seperti saluran sisi selatan

Kompleks perumahan CA. CA adalah bagian PG yang mengurusi tebu dari pembibitan hingga panen

Kompleks CA

Kompleks CA
 Sayangnya kami hanya diizinkan untuk masuk ke halaman depan PG.

Sekilas bangunan, dengan tambahan bangunan baru di sisi kiri foto (lihat struktur atapnya).

Cerobong baru, menggantikan cerobong lama yang dirobohkan beberapa waktu lalu.

Sayap kiri PG.

Pos Satpam dan pintu utama.

Eks Jembatan Timbang Lori.


Dua bagian yang menonjol itu aslinya berlubang, digunakan sebagai akses masuk lori ke dalam pabrik.

 Kemudian, kami menuju ke Banyumas. Berputar-putar di kawasan kota lama Banyumas, dan akhirnya singgah di rumah letnan Tionghoa pertama Banyumas. Sayangnya rumah ini tidak terawat. Langit-langitnya jebol dan tampak kumuh.




Hiasan atap

Papan di dinding depan rumah

  Acara diakhiri dengan sarasehan di Pendopo Duplikat Si Panji, kompleks Kecamatan Banyumas. Acara jelajah yang melelahkan ini membawa banyak manfaat bagi saya (dapet doorprize, yee). Menambah pengetahuan tentang masa lalu kota Sokaraja sebagai sebuah kota industri dan masa lalu Banyumas. Meski harus dihiasi keprihatinan melihat kondisi bangunan-bangunan yang tidak terawat. Memang sebuah ironi, saat Bung Karno berkata untuk tidak melupakan sejarah, kitalah yang menghilangkan sejarah kita sendiri. Kita yang tidak peduli dengan warisan leluhur kita. Kita yang membuang keping-keping peninggalan leluhur, menutup sejarah kita sendiri. Ignorant, itu kata yang tepat bagi kita, sebuah bangsa yang lupa dengan sejarahnya sendiri.... Sebuah bangsa yang tidak peduli dengan sejarah bangsanya sendiri...

0 comments: